Mengenal 5 Profil Pahlawan Nasional baru 2022 ~ Pengembangan Layanan IT
WELCOME ►►Selamat datang di blog saya. Semoga mendapatkan informasi terbaik sesuai kebutuhan Anda. Salam...admin!!!

Tuesday, November 15, 2022

Mengenal 5 Profil Pahlawan Nasional baru 2022

Pengembangan Layanan IT - Memaknai Hari Pahlawan 2022, mengenali 5 profil Pahlawan Nasional baru ini. 

Banyak cerita unik dan dedikasi mereka yang menarik untuk disimak.  Para Pahlawan Nasional ini datang dari berbagai daerah. Sosok mereka, ada yang merupakan dokter pribadi Presiden Pertama RI Soekarno, ada yang seorang raja di Tanah Jawa, ada pula yang gugur bersama istri saat berjuang. 

1. Dr. dr. H. R. Soeharto


Soeharto sendiri adalah dokter pribadi Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno. Dilansir dari laman Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), Soeharto ternyata yang ikut menggagas Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada 24 Oktober 1950. Semasa hidupnya, Dr. Soeharto memiliki kedekatan yang spesial dengan Bung Karno dan Bung Hatta sejak tahun 1942. Dr. Soeharto juga kerap mendampingi Bung Karno dalam kunjungan-kunjungan politik, seperti kunjungan ke Dalat untuk mempersiapkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Selain itu, rumah sekaligus tempat praktik beliau di Jalan Kramat Raya No.128 pernah digunakan oleh Bung Karno dan Tan Malaka untuk mendiskusikan testamen pelimpahan kekuasaan. Jejaknya Dimulai sejak Tahun 1912 Dr. Soeharto pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan, Menteri Perindustrian, dan Kepala Bappenas di Kabinet Soekarno. Beliau juga merupakan salah satu pendiri bank pertama di Indonesia, Bank Negara Indonesia (BNI) dan turut andil dalam pembangunan kawasan Sarinah Thamrin Jakarta, dan Hotel Indonesia. 

2. KGPAA Paku Alam VIII

Bandara Raden Mas Harya Sularso Kunto Suratno atau yang dikenal dengan gelarnya sebagai Sri Paduka KGPAA Paku Alam VIII adalah raja dari Kadipaten Pakualaman. Disebut raja, karena dahulu Kadipaten Pakualaman adalah satu dari empat kerajaan yang berstatus swapraja pada masa kolonial Belanda selain Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, Kasunanan Surakarta, dan Kadipaten Praja Mangkunegaran. Pemberian gelar pahlawan nasional kepada KGPAA Paku Alam VIII karena beliau ikut mengintegrasikan wilayah Kadipaten Pakualaman untuk bergabung dengan NKRI pada awal masa kemerdekaan. Sementara dilansir dari Kompas.com, pada 5 September 1945, secara resmi KGPAA Paku Alam VIII mengeluarkan amanat bergabungnya Kadipaten Pakualaman dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sosok Raja di Pura Pakualaman ini kemudian diangkat sebagai Wakil Gubernur Provinsi DIY pertama mendampingi Sri Sultan Hamengku Buwono IX sejak 4 Maret 1950 hingga 3 Oktober 1988. KGPAA Paku Alam VIII juga seringkali menggantikan tugas sebagai kepala daerah karena kesibukan Hamengkubuwono IX dalam berbagai kabinet Republik Indonesia. Info bagi Siswa Setelah Sri Sultan Hamengku Buwono IX mangkat pada tahun 1988, KGPAA Paku Alam VIII kemudian menggantikan posisinya sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1988–1998. KGPAA Paku Alam VIII memegang jabatan sebagai Raja Kadipaten Pakualaman selama 61 tahun dan merupakan raja negeri pecahan Mataram yang berkuasa paling lama (1937-1998). 

3. dr. R. Rubini Natawisastra

dr. Raden Rubini Natawisastra. Dilansir dari laman Provinsi Kalimantan Barat, ia merupakan dokter yang berasal dari tanah sunda dan menetap di Provinsi Kalbar selama 17 tahun. dr. Rubini menjalankan misi kemanusiaan dengan menjadi dokter keliling melayani pengobatan di daerah terpencil dan pedalaman. Selain dokter, dr. Rubini juga merupakan pemimpin partai politik pada masanya dan memberikan perjuangannya demi cita-cita kemerdekaan Indonesia melawan penjajah di daerah Kalbar. dr. Raden Rubini Natawisastra juga membentuk gerakan bawah tanah. Saat bertugas, ia melihat sebagian besar pasiennya adalah perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh penjajah. ia semakin gigih melawan penjajah Jepang. Bahkan, dr. Raden Rubini Natawisastra bersama istrinya sampai harus dijatuhi hukuman mati oleh Jepang karena memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kisah berlanjut kelam. Dokter yang dikenal ulet ini tewas di tangan Jepang. Padahal saat itu istrinya juga sedang hamil dan ikut tewas dalam Tragedi Mandor. Ketika dibunuh oleh penjajah Jepang, dr. Rubini menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Sungai Jawi, Pontianak, sekaligus Kepala Bagian Bedah. Selain itu, dr. Rubini juga memimpin organisasi berhaluan politik yang menentang penjajahan Jepang dan menuntut kemerdekaan Kalimantan Barat menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meski tiada, dr. Rubini tetap hidup dalam nama berbagai tempat di Indonesia. Seperti RSUD di Kabupaten Mempawah, yakni RSUD dr. Rubini Mempawah, serta nama jalan di Kabupaten Mempawah, Kota Pontianak, Kota Bandung, serta nama Taman Aulia dr. Rubini di Kabupaten Mempawah. 

4. H. Salahuddin bin Talabuddin


Haji Salahuddin bin Talabuddin salah satu tokoh yang dibanggakan oleh rakyat Halmahera Tengah, serta Maluku Utara. Ia memimpin pergerakan melawan penjajah di wilayah Maluku Utara dan berkali-kali ditawan pihak Belanda. Haji Salahuddin bin Talabuddin beberapa kali dipenjara seperti pada tahun 1918-1923, ia dipenjara di Sawahlunto Sumatera, lalu di Pulau Nusakambangan pada 1941-1942 dan Boven Digoel pada tahun 1943. Hukuman tersebut dijatuhkan karena perjuangannya saat menentang penjajah dan keberanian mengibarkan Merah Putih di tanjung Ngolopopo, Patani Halmahera Tengah pada tahun 1941. Perjuangan Haji Salahuddin bin Talabuddin berakhir pada tahun 1948 karena dieksekusi mati di kawasan Skep, Kelurahan Salahuddin, Kota Ternate. Sejak saat itu, untuk menghormati jasa dan perjuangan Haji Salahuddin bin Talabuddin maka namanya diabadikan menjadi nama kelurahan di tempat tersebut. 

5. K.H. Ahmad Sanusi


Dilansir dari laman Program Studi dan Ilmu Tafsir Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, pada artikel berjudul "K.H. Ahmad Sanusi: Mufassir Sekaligus Pahlawan Nasional dari Sukabumi" yang ditulis Raihan Sabdanurrahmat, sosok Ahmad Sanusi adalah anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPKI). K.H. Ahmad Sanusi juga aktif menulis, membangun pesantren dan kegiatan pendidikan lainnya. Sosoknya turut andil dalam mendirikan Universitas Islam Indonesia (UII). Semasa hidupnya K.H. Ahmad Sanusi telah menulis sekurang-kurangnya 525 karya tulis yang di mana 400 di antaranya tersusun rapi di Universitas Leiden Belanda. Salah satu dari karyanya yang terkenal adalah kitab Maljau at-Thalibin yang merupakan kitab tafsir yang menggunakan bahasa Sunda. 

Itulah 5 profil Pahlawan Nasional baru tahun 2022. 

Ada baiknya kita mempelajari semangat berjuang, keilmuan, dedikasi para pahlawan di atas agar kelak bisa seperti mereka. Ikut berdedikasi bagi Indonesia.


Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Pengembangan Layanan IT Design By Nala Sumarna - All Rights Reserved